SAMBALADO (CERITA ORANG DOELOE)

SAMBALADO

(CERITA ORANG DOELOE)



    Melihat cabai merah yang segar dan tampak menggoda di sebuah lapak di pasar dekat rumah, sukses membuat saya beranjak membelinya. Telah terbayang cabai-cabai merah ini berubah menjadi sambal. Enaknya, bikin balado, nih, batin saya. Terbayang pula, telur balado, terong balado, ikan balado, dendeng balado, …. Wah, bahaya ini, melamun di tengah pasar, gumam saya mengakhiri lamunan.


    Sesampainya di rumah, setelah mengamankan barang belanjaan, segera mengeksekusi salah satu yang dicita-citakan di pasar tadi. Telur balado.


    Tangan ini mengupas beberapa butir bawang merah, menyiangi cabai merah, menyiapkan terasi, dan mengambil tempat garam. Setelah mencuci bersih bawang dan cabai merah, saya mengambil mutu dan cobek untuk mengulek semua bahan tadi.


    Untuk memudahkan dalam mengulek, butiran bawang dan batangan cabai dipotong-potong terlebih dahulu. Mama saya bilang, mengulek itu mulai dari cabai dan garam. Baru kemudian bawang dan terasi. Beberapa tidak memakai terasi sebagai bahan dalam balado. Tapi, lagi-lagi, ini tentang selera. Selera Bundo eh, Mama adalah selera saya juga. Heuheu.


    Saat mengulek, teringat percakapan puluhan tahun lalu, antara saya dengan Andung, panggilan untuk ibu Mama saya. Masa itu, saya tinggal di rumah beliau karena saya menuntut ilmu di kota dimana beliau tinggal. Saya sering dan senang membantu beliau dalam menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak hari itu. Kenapa bukan saya yang memasak? Jelas untuk alasan keselamatan dan kesehatan semua penghuni rumah Andung. Hiks.


    “Kata orang zaman dulu, perempuan sudah boleh menikah kalau sudah dapat membuat sambal,” Andung mulai bercerita. Beliau menyiangi sayuran sementara saya mulai mengulek cabai.


    “Kok gitu? Apa hubungannya?” Saya menghentikan kegiatan saya, menatap wajah beliau yang tersenyum.


    “Kalau nggak bisa masak, nggak boleh menikah?” tiba-tiba diri ini merasa insecure. “Kasian, dong, yang mau menikah, tapi nggak bisa masak,” lanjut saya.


    Ngulek, bukan masak,” koreksi Andung.


    “Iya itu dah. Kalau nggak bisa ngulek kan ada blender. Kenapa nggak pake blender aja? Masih bisa menikah juga kan?” kejar saya. Antara menyarankan, menawarkan alternatif, dan mencoba menyelamatkan diri agar termasuk dari bagian perempuan yang sudah boleh menikah itu terasa sangat tipis bedanya.


    “Beda atuh.”


    “Apanya yang beda? Kan sama-sama jadi sambal?” begitulah bila newbie memasak berbicara. “Kasihan atuh, yang nggak bisa ngulek tapi pengen menikah.”


    “Itukan cerita orang dulu,” ujar Andung singkat. Setelah itu beliau menunjukkan sikap tidak ingin melanjutkan pembicaraan.


    Tahunan pun berlalu. Setelah menikah dan menjalani pernikahan serta sedang mengulek cabai sambil merenung, saya mulai memahami cerita orang dulu tersebut.


    Saat mengulek, dibutuhkan rasa sabar dan ketekunan. Karena mengulek cabai tidak sama dengan menghabiskannya yang memerlukan tempo yang sesingkat-singkatnya. Rasa pegal, tidak sabar, panas terkena air cabai, kadang membuat diri ini ingin melempat cobek beserta isinya itu. Hanya sabar, ketekunan, dan keinginan kuat yang dapat menjadikan potongan cabai menjadi pasta cabai yang lembut. Rasa bahagia selalu datang menghampiri hati ketika lidah ini menyentuh sambal.


    Begitu pula dalam menjalani pernikahan. Banyaknya ujian berupa kesulitan di dalam rumah tangga, memang wajibharuskudu dapat sabar. Meski sejuta topan badai ada di dalam hati, tapi kita harus dapat meredamnya dengan kesabaran. Kemudian jalani dengan tekun dan fokus agar dapat melewatinya dengan baik. Hubungan yang erat dan harmonis kadang diperoleh setelah melalui masa-masa sulit bersama-sama.


    Andung sudah lama tiada. Tapi saya ingin sekali bilang, “Ternyata betul, Ndung. Mengulek cabai sendiri itu lebih nikmat rasanya daripada hasil blender.”


     Saya juga penasaran, siapa sebenarnya 'orang dulu' tersebut? Sungguh sangat bijaksana. 



Purwokerto, 6 November 2021.




Read More